Sabtu, 18 Februari 2012

SAMPLING AUDIT


2.1.          Sampling Audit
Sampling adalah metode penelitian, yang kesimpulan terhadap populasi yang diteliti didasarkan pada hasil pengujian terhadap sampel. Populasi adalah kumpulan yang lengkap dari kelompok data yang menjadi objek penelitian. Sampel adalah bagian dari populasi, yang di pilih untuk diteliti, berfungsi sebagai perwakilan dari seluruh anggota populasi.
Menurut PSA N0. 26 Sampling Audit adalah penerapan prosedur audit terhadap kurang dari seratus persen unsur dalam suatu saldo akun atau kelompok transaksi dengan tujuan untuk menilai beberapa karakteristik saldo akun atau kelompok transaksi tersebut.  Ada alasan lain bagi auditor untuk memeriksa kurang dari 100% unsur yang membentuk saldo akun atau kelompok transaksi. Sebagai contoh, auditor mungkin hanya memeriksa beberapa transaksi dari suatu saldo akun atau kelompok untuk memperoleh pemahaman atas sifat operasi entitas atau memperjelas pemahaman atas pengendalian intern entitas. Audit sampling ini dapat dilakukan dengan dua pendekatan umum, yaitu :
1.         Tidak menggunakan statistik (nonstatistik) dan
2.        Menggunakan statistik.
Kedua pendekatan tersebut mengharuskan auditor menggunakan pertimbangan profesionalnya dalam perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian sampel, serta dalam menghubungkan bukti audit yang dihasilkan dari sampel dengan bukti audit lain dalam penarikan kesimpulan atas saldo akun atau kelompok transaksi yang berkaitan.
Audit sampling yang menggunakan statistk adalah audit yang menggunakan matematika sebagai sarana untuk menentukan perencanaan, pemilihan dan evaluasi sampel. Dalam hal ini statistik sangat membantu kerana statistik menyediakan beberapa metode yang dapat digunakan oleh auditor untuk memilih dan mengunakan sampel-sampel tersebut untuk kemudian membuat kesimpulan yang menyeluruh mengenai populasi yang diaudit.
Sampling Audit dapat diterapkan baik untuk melakukan pengujian pengendalian, maupun pengujian subtantif. Sampling audit banyak diterapkan auditor dalam prosedur pengujian yang berupa voucing, tracing, dan konfirmasi.  Sampling dipergunakan kalau waktu dan biaya tidak memungkinkan untuk memeriksa seluruh transaksi/kejadian dalam suatu populasi. Populasi adalah seluruh item yang harus diperiksa. Sub dari populasi disebut dengan istilah sampel.
Kedua pendekatan ini dapat di gunakan dalam audit, karena tidak ada satu pihakpun yang dapat menjamin bahwa salah satu di antara keduanya lebih baik dari yang lain. Sampling dipergunakan untuk menginferensi karakteristik dari populasi.  Keuntungan dari sampling itu sendiri adalah :
1.         Menghemat sumber daya: biaya,waktu, tenaga
2.        Kecepatan mendapatkan informasi (up date)
3.        Ruang lingkup (cakupan) lebih luas
4.        Data/informasi yang diperoleh lebih teliti dan mendalam
5.        Pekerjaan lapangan lebih mudah disbanding cara sensus.

Dalam tahapan audit sampling ada enam tahapan adalah sebagai berikut :

1.         Menyusun rencana audit
2.        Menetapkan jumlah/unit sampel
3.        Memilih sampel
4.        Menguji sampel
5.        Mengestimasi keadaan populasi
6.        Membuat simpulan hasil audit


2.2.         Sampling Audit Statistik Dan Non Statistik
Ada dua pendekatan umum dalam sampling audit yang dapat dipilih auditor untuk memperoleh bukti audit kompeten yang memadai yaitu Sampling Statistik dan Sampling Non Statistik.
A.           Sampling Statistik
Guy (1981) menyatakan bahwa sampling statistik adalah penggunaan rencana sampling (sampling plan) dengan cara sedemikian rupa sehingga hukum probabilitas digunakan untuk membuat statement tentang suatu populasi. Ada dua syarat yang harus dipenuhi agar suatu prosedur audit bisa dikategorikan sebagai sampling statistik. Pertama, sampel harus dipilih secara random. Random merupakan lawan arbritrari atau judgemental. Seleksi random menawarkan kesempatan sampel tidak akan bias. Kedua, hasil sampel harus bisa dievaluasi secara matematis. Jika salah satu syarat ini tidak terpenuhi maka tidak bisa disebut sebagai sampling statistik. Berikut digambarkan tipe sampling audit syarat pengkategorian tipe-tipe tersebut.

Tabel Tipe Sampling Audit
No
Types of Audit Sampling
Sample Selection
Sample Evaluation
1
100 percent
Key items
Conclusive
2
Judgement Sample
Judgmental
Judgmental
3
Representative Sample
Random
Judgmental
4
Statistical Sample
Random
Mathematical
Sumber: Guy, 1981

Untuk memilih sampel secara random ada beberapa metode yang bisa digunakan :
a.      Simple Random Sampling. Menggunakan pemilihan random untuk memastikan bahwa tiap elemen populasi mempunyai peluang yang sama dalam pemilihan. Tabel bilangan acak dapat dipakai untuk mecapai kerandoman (randomness).
b.      Stratified Random Sampling. Membagi populasi dalam kelompok-kelompok (grup/stratum) dan kemudian melakukan pemilihan secara random untuk tiap kelompok. Kelebihan metode ini, pertama, pemilihan sampel bisa dihubungkan dengan item kunci, serta bisa menggunakan teknik audit berbeda untuk tiap stratum. Kedua, stratifikasi meningkatkan reliabilitas sampel dan mengurangi besarnya sampel (sample size) yang dibutuhkan. Jika sampel yang homogen dikelompokkan maka keefektifan dan keefisienan sampel bisa ditingkatkan.
c.       Systematic Sampling. Menggunakan random strart point kemudian memilih tiap populasi ke n. Kelebihan utama metode ini adalah penggunaannya mudah. Namun problem utama adalah kemungkinan masih timbul sampel yang bias (Guy, 1981).
d.      Sampling Probability Proportional to Size (Dollar Unit Sampling). Memilih sampel secara random sehingga probabilitas pilihan langsung terkait dengan nilai (size). Dengan metode ini unit yang nilai tercatatnya besar secara proporsional akan memiliki lebih banyak kesempatan untuk terpilih daripada unit yang nilai tercatatnya kecil.

Menurut Halim (2001) sampling statistik memerlukan lebih banyak biaya daripada sampling nonstatistik. Alasannya karena harus ada biaya yang dikeluarkan untuk training bagi staf auditor untuk menggunakan statistik dan biaya pelaksanaan sampling secara statistik. Namun tingginya biaya sampling statistik dikompensasi dengan tingginya manfaat yang dapat diperoleh melalui pelaksanaan sampling statistik. Sedang menurut Guy (1981) ada empat kelebihan sampling statistik, yaitu :
1.         Memungkinkan auditor menghitung reliabilitas sampel dan risiko berdasarkan sampel.
2.        Mengharuskan auditor merencanakan sampling dengan lebih baik (more orderly manner) dibandingkan dengan sampling non statistik
3.        Auditor bisa mengoptimalkan sampel size, tidak overstated atau understated, dengan risiko yang hendak diterima terukur secara matematis.
4.        Berdasarkan sampel, auditor bisa membuat statement yang obyektif mengenai populasi sampel.

B.      Sampling Non Statistik
Sampling non statistik merupakan pengambilan sampel yang dilakukan berdasarkan kriteria subyektif berdasarkan pengalaman auditor. Guy (1981) mendefinisikan sampling yang sampelnya dipilih secara subyektif, sehingga proses pemilihan sampel tidak random dan hasil penyampelan tidak dievaluasi secara matematis. Ada beberapa metode pemilihan sampel yang dikategorikan dalam sampling non statistik, sebagai berikut :
a.      Haphazard sampling. Auditor memilih sampel yang diharapkan representatif terhadap populasi lebih berdasar judgement individu tanpa menggunakan perandom probabilistik (misalnya semacam tabel bilangan random). Untuk menghindari bias, sampel dipilih tanpa memperhatikan ukuran, sumber, atau ciri-ciri khas lainnya (Arrens dan Loebbecke, 2000). Tetapi kelemahan utama metode ini adalah kesulitan untuk benar-benar menghilangkan bias pemilihan.
b.      Block sampling. Menggunakan seleksi satu atau lebih kelompok elemen populasi secara berurut. Bila satu item dalam blok terpilih maka secara berurut item-item berikutnya dalam blok akan terpilih dengan otomatis. Metode ini secara teoritis merupakan metode pemilihan sampel yang representatif namun jarang digunakan karena tidak efisien. Waktu dan biaya untuk memilih sampel yang memadai agar representatif terhadap populasi sangat mahal (Guy dan Carmichael, 2001).
c.       Systematic sampling. Menggunakan start point yang ditentukan secara judgement kemudian memilih tiap elemen populasi ke n. Sampel dipilih berdasarkan interval yang ditentukan dari pembagian jumlah unit dalam populasi dengan jumlah sampel.
d.      Directed sampling. Menggunakan seleksi berdasarkan judgement elemen bernilai (high value) atau elemen yang diyakini mengandung error. Auditor tidak mendasarkan pada pemilihan yang mempunyai kesempatan sama (probabilistik), namun lebih menitik beratkan pemilihan berdasarkan kriteria. Kriteria yang biasa digunakan adalah:
1.       Item-item yang paling mungkin mengandung salah saji.
2.      Item-item yang memiliki karakteristik populasi tertentu.
3.      Item yang mempunyai nilai tinggi (large dollar coverage).

Dibanding sampling statistik,  judgement atau sampling non statistik sering dikritik karena secara berlebihan mengandalkan intuisi dan juga sering secara irasional dipengaruhi faktor-faktor subyektif. Kecukupan ukuran sampel tidak bisa secara obyektif ditentukan. Misalnya reaksi personal auditor terhadap karyawan klien, proses pengadilan, dan waktu yang tersedia untuk menyelesaikan penugasan bisa sangat mempengaruhi ukuran sampel (Guy, 1981). Namun demikian terlepas dari kemungkinan terjadinya hal-hal tersebut, sampling non statistik yang direncanakan secara tepat akan dapat seefektif sampling statistik. Banyak situasi yang membuat judgement sampling lebih sesuai dari pada sampling statistik. Harus dicatat bahwa sampling statistik merupakan alat yang berguna untuk sebagian, tidak semua situasi. Apakah sampling statistik harus digunakan, tergantung dari keputusan, tujuan audit, pertimbangan cost diferensial (dibandingkan dengan judgement sampling) serta trade-offs antara biaya dan manfaat yang didapat dalam pengauditan.
2.3.         Ketidakpastian Dalam Sampling Audit
Auditor mengakui adanya faktor-faktor seperti waktu dan biaya yang diperlukan untuk melakukan pemeriksaan baik atasa sampel data maupun atas seluruh data. Semakin banyak sampel yang diambil, semakin banyak waktu dan biaya yang diperlukan. Auditor juga mengakui adanya konsekuensi negative dari kemungkinan kesalahan pengambilan keputusan yang didasarkan atas kesimpulan hasil audit terhadap data sampel semata.
Auditor dapat memutuskan untuk menerima beberapa ketidakpastian yang timbul akibat pelaksanaan sampling. Ketidakpastian tersebut meliputi :
1.       Ketidakpastian yang disebabkan langsung oleh penggunaan sampling (resiko sampling). Resiko sampling berkaitan dengan kemungkinan bahwa sampel yang diambil bukanlah sampel yang representatif. Risiko sampling timbul dari kemungkinan bahwa kesimpulan auditor bila menggunakan sampling mungkin menjadi lain dari kesimpulan yang akan dicapai bila cara pengujian yang sama diterapkan tanpa sampling. Tingkat risiko sampling mempunyai hubungan yang terbaik dengan ukuran sampel. Semakin kecil ukuran sampel, semakin tinggi risiko samplingnya. Sebaliknya, semakin besar ukuran sampel, semakin rendah risiko samplingnya. Auditor harus menerapkan pertimbangan professional dalam menentukan besarnya risiko sampling. Risiko sampling dapat dibedakan atas :
a.      Risiko sampling dalam pengujian subtantif atas detail atau rincian. Auditor dalam memperhatikan dua aspek penting dari risiko sampling. Yang meliputi : Risiko keliru menerima (risk of incorrect acceptance) dan Risiko keliru menolak (risk of incorrect rejection)
b.      Risiko sampling dalam melaksanakan pengujian pengendalian. Auditor memperhatikan dua aspek penting dalam risiko sampling, yang  meliputi :
1.       Risiko penentuan tingkat risiko pengendalian yang terlalu rendah (risk of assessing control risk too law).
2.      Risiko penentuan tingkat risiko pengendalian yang terlalu tinggi (risk of assessing control risk too high).

2.     Ketidakpastian yang disebabkan faktor selain sampling (risiko non sampling).  Risiko non sampling meliputi semua aspek risiko audit yang tidak berkaitan dengan sampling. Risiko ini tidak akan pernah dapat diukur secara sistematis. Risiko non sampling timbul karena :

a.         Kesalahan manusia seperti gagal mengakui kesalahan dalam dokumen.

b.        Kesalahan pemilihan maupun penerapan prosedur audit yang tidak sesuai dengan tujuan audit.

c.         Salah interpretasi hasil sampel.


2.4.       Pendekatan Sampling Audit
Standar Profesional Akuntan Publik pada Standar pekerjaan lapangan ketiga menyatakan bahwa:
“Bukti Audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, pengajuan pertanyaan, dan konfirmasi sebagai dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan auditan”

Ada dua pendekatan umum dalam pendekatan sampling audit yang dipilih auditor untuk memperoleh bukti audit kompeten yang cukup. Kedua pendekatan tersebut ialah :
1.         Sampling statistik. Sampling statistik lebih banyak memerlukan biaya daripada sampling non statistik. Biaya tersebut dikeluarkan berkaitan dengan :
a.         Biaya pelaksanaan training bagi staf auditor untuk menggunakan statistik.
b.        Biaya pelaksanaan implementasi rencana sampling statistik.
Ada dua macam teknik sampling statistik, yaitu :
1.         Atribut sampling. Teknik ini digunakan dalam pengujian pengendalian. Kegunaannya adalah untuk memeperkirakan tingkat deviasi atau penyimpangan dari pengendalian yang ditentukan dalam populasi.
2.        Variable sampling. Dalam pendekatan Variabel sampling, distribusi normal digunakan auditor untuk mengevaliasi karakteristik populasi yang didasarkan pada hasil sampel yang diambil dari populasi. Variable sampling digunakan auditor, apabila ditemukan kondisi sebagai berikut : (a). Klien tidak dapat menyajikan suatu jumlah yang dapat dianggap benar. (b) Suatu saldo akun ditentukan dengan sampling statistik.  Variable sampling tepat untuk diterapkan auditor, antara lain pada :
a.        Observasi dan penilaian persediaan
b.        Konfirmasi piutang dagang.
c.         Cadangan piutang tak tertagih.
d.        Cadangan piutang yang rusak.
e.        Menilai persediaan dalam perusahaan.
f.          Menilai aktiva tetap dalam utility campany.
g.        Penilaian umur piutang.
Ada tiga teknik yang dapat digunakan dalam variable sampling, yaitu :
a.        Mean per-unit (MPU)
b.        Difference estimation
c.         Sampling estimasi rasio
2.        Sampling non statistik. Sampling non statistik merupakan pengambilan sampel yang sebagaimana mestinya akan menghasilkan bukti audit yang cukup.

STATISTIK VS NONSTATISTIK SAMPLING
Mempunyai persamaan yaitu terdiri dari 4 langkah sebagai berikut :
1.         Perencanaan sample, bertujuan menjamin bahwa pengujian audit dilaksanakan dengan cara yang sesuai untuk memberikan risiko uji petik yang diinginkan dan untuk meminimalkan kemungkinan risiko uji petik.
2.        Seleksi sample, meliputi keputusan bagaimana memilih unsur sample dari populasi.
3.        Pelaksanaan pengujian, yaitu pemeriksaan dokumen dan melakukan pengujian audit lainnya.
4.        Evaluasi hasil, mencakup penarikan kesimpulan berdasarkan pengujian audit. 





Perbedaan :
1.         Sampling Statistik : menggunakan teknis-teknis pengukuran matematis untuk menghitung hasil statistik formal. Bermanfaat untuk mengkuantifikasi risiko uji petik pada perencanaan sample dan evaluasi hasil. Hanya cocok untuk sample probabilistis (tiap unsur populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk terpilih).
2.        Sampling Non Statistik : memilih unsur-unsur sample yang diyakini dapat memberikan informasi yang berguna pada populasi tersebut dan keputusan yang diambil lebih berdasarkan pertimbangan. Sering disebut judgemental sampling.

2.5.       Proses Pengambilan Sampel dan faktor-faktor penggunaan metode sampling
Proses pengambilan sampel merupakan cara-cara dalam memilih sampel untuk studi tertentu. Proses terdiri dari beberapa tahapan, yaitu sebagai berikut :
a.    Tahap 1 memilih populasi
b.   Tahap 2 memilih unit-unit sampling
c.    Tahap 3 memilih kerangka sampling
d.   Tahap 4 memilih desain sampel
e.    Tahap 5 memilih ukuran sampel. Ukuran sampel tergantung beberapa faktor yang mempengaruhi diantaranya: homogenitas unit-unit sampel, kepercayaan, persepsi, kekuaatan statistik, prosedur analisa, dan biaya
f.     Memilih rancangan sampling
g.    Memilih sample

Dalam penelitian terdapat tujuh faktor yang mempunyai pengaruh dalam pemilihan sampling audit. Faktor-faktor tersebut adalah :

1.         Persepsi mengenai sampling statistik
2.        Persepsi mengenai risiko audit
3.        Tekanan waktu
4.        Pengalaman
5.         Pemeriksaan perusahaan yang go public
6.        Tenaga ahli
7.         Skala kantor akuntan publik



2.6.         Pemilihan Sampel
Pemilihan sampel atau sampling adalah suatu proses memperoleh informasi mengenai populasi secara keseluruhan dengan cara menguji hanya sebagian dari populasi tersebut. Konsep-konsep pemilihan sampel mencakup hal-hal seperti unit sampling, atribut, pemilihan secara cak (random), stratifiksi, risiko pemilihan sampel (sampling risk), tingkat ketepatan (precision), dan tingkat keyakinan (confidence level atau reliability).
Suatu satuan atau unit sampling adalah unsur (elemen) di dalam populasi yang memiliki sifat-sifat atau karakteristik yang akan diukur oleh auditor guna membuat estimasi mengenai karakteristik seluruh populasi, daftar dari seluruh unit sampling di dalam populasi disebut frame. Perlu diingat bahwa unsur atau elemen di dalam populasi itu sendiri mungkin memiliki atau tidak memiliki karakteristik tertentu yang biasa disebut dengan istilah atribut.
Pemilihan sampel dilakukan setelah auditor mengetahui besarnya sampel yang akan dipilih dan diperiksa. Biasanya auditor membuat klasifikasi apakah sampel yang telah dipilihnya tersebut dikembalikan lagi ke populasinya sehingga dapat dipilih kembali (disebut dengan istilah sampling with replacement) ataukah setiap kali sampel telah dipilih tidak dikembalikan lagi ke populasinya sehinga tidak dapat lagi dipilih kembali sebagai sampel (disebut dengan istilah sampling without replacement). Apabila sampel tersebut telah dipilih, maka langkah berikutnya adalah memeriksa sampel-sampel yang telah dipilih tersebut untuk selanjutnya dibuat kesimpulan terhadap seluruh populasi yang diwakili oleh sampel-sampel tersebut. Dalam pekerjaan audit pada dasarnya terdapat dua metode pemilihan atau penarikan sampel, yaitu metode pemilihan secara statistik atau statistical (random) sampling method dan metode pemilihan tidak secara statistik atau nonstatistical sampling (jusgment) method.

A.           Metode pemilihan secara statistik
Metode ini disebut pula dengan istilah metode pemilihan secara acak (random sampel), yitu suatu cara pemilihan sampel yang sedemikian rupa sehingga setiap unsur di dalam populasi mempunyai probabilitas yang tidak sama untuk dipilih menjadi sampel. Metode ini dapat dilakuka dengan menggunakan tabel angka acak (random numbers table), secara sistematik atau dengan menggunakan program komputer.
1.         Tabel angka acak
Tabel angka acak adalah suatu daftar angka acak yang disusun dalam bentuk tabel untuk membantu pemilihan angka-angka secara acak karena angka-angka dalam tabel ini tidak berurutan. 
2.        Pemilihan sampel secara sistematik
Dalam cara pemilihan sampel yang sistematik auditor menghitung suatu rentang (interval) tertentu dari populasi dalam masing masing strata dengan jalan membagi besarnya populas dengan jumlah sampel yang dikehendaki.
Cara pemilihan sampel yang sistematik ini sangat mudah digunakan karena begitu suatu titik awal ditetapkan maka langkah berikutnya bersifat otomatis. Keadaan ini tidak akan menimbulkan masalah apabila kesalahan-kesalahan yang terjadi di dalam populasi tersebar secara acak di seluruh populasi. Akan tetapi keadaan ini sangat jarang terjadi sehingga kemungkinan kesalahan-kesalahan yang material yang terjadi di dalam populasi tidak akan tercakup di dalam sampel. Oleh sebab itu biasanya cara yang kedua ini hanya digunakan apabila cara yang pertama atau paket program komputer mengenai pemilihan sampel tidak dapat dilakukan.

B.           Metode pemilihan sampel nonstatistik
Metode pemilihan sampel tidak secara statistik adalah suatu cara pemilihan sampel yang didasarkan pada pertimbangan pribadi auditor, misalanya akan memeriksa seluruh pos persediaan yang mempunyai saldo Rp 1.000.000 atau lebih. Metode ini paling banyak digunakan di dalam audit meskipun oleh auditor yang mengetahui cara-cara statistik. Hal ini disebabkan karena mudah ataupun karena metode pemilihan sampel secara statistik tidak dapat diterapkan, tidak memungkinkan atau terlalu mahal apabila digunakan.
Metode ini dapat dilakukan dengan menggunakan salah satu dari tiga cara sebagai berikut:
1.         Blok sampling: Blok sampling adalah pemilihan beberapa pos (item) secara berurutan. Begitu pos pertama di dalam blok tersebut telah dipilih maka pos-pos lainnya di dalam blok tersebut akan terpilih secara otomatis. Sebagai contoh misalnya pemilihan seratus transaksi pembelian dalam buku harian pembelian pada tengah pertama bulan februari. 
Kelemahan cara ini adalah apabila blok yang digunakan hanya sedikit maka dapat memungkinkan tidak terpilihnya populasi yang mengandung kesalahan. Untuk menghindari hal itu  Arens dan Loebbecke (1981) menyarankan setidak-tidaknya menggunakan sembilan blok untuk sembilan bulan yang berbeda.
2.        Metode pemilihan sampel menurut pertimbangan auditor (metode judgemental), dan
3.        Metode tanpa tendensi
Metode ini digunakan apabila auditor dalam memilih sampel tidak memperdulikan besarnya nilai, sumbernya atau sifat-sifat lainnya yang spesifik. Kelemahan utama cara ini adalah sulitnya menentukan pos-pos sampel yang bebas dari pretensi atau tendensi auditornya. Sebagai gambaran misalnya ada beberapa auditor yang lebih senang untuk memilih sampel dari transaksi kepada pihak-pihak tertentu atau transaksi yang tertulis pada setiap awal halaman dan mengabaikan transaksi yang tertulis pada tengah halaman, sementara auditor lainnya lebih menyukai transaksi yang tertulis pada tengah halaman atau yang mempunyai saldo besar.

Beberapa pertimbangan penting yang berkaitan dengan pemilihan ukuran sampel, yaitu :
1.       Seleksi Acak dengan Pengukuran Statistik. Perlu dipahami oleh auditor mengenai perbedaan antara seleksi acak dengan pengukuran statistik dalam penentuan pemilihan ukuran sampel.
2.      Dokumentasi yang cukup. Penting bagi auditor untuk memelihara catatan mengenai prosedur yang dilaksanakan, metode yang digunakan untuk menyeleksi sampel dan melaksanakan pengujian, hasil yang diperoleh, dan kesimpulan yang ditarik.
3.      Kebutuhan akan pertimbangan profesional. Penerapan uji statistik memerlukan pertimbangan profesional dalam langkah-langkahnya.





2.7.         Tehnik Sampling Statistik
Seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa terdapat dua tehnik sampling statistik, yaitu: sampling atribut dan sampling variabel serta tehnik gabungan antara keduannya.
A.    Sampling Atribut
Yang dimaksud dengan sampling atribut adalah suatu metode untuk melakukan perkiraan atau estimasi terhadap sebagian dari populasi yang mengandung karakter atau atribut tertentu yang menjadi perhatian atau menjadi tujuan audit seorang auditor. Sampling ini terutama digunakan dalam pengujian-pengujian pengendalian intern. Sampling atribut digunakan untuk membuat kesimpulan mengenai tingkat kejadian di dalam populasi, dan biasanya digunakan untuk menguji tingkat ketaatan terhadap prosedur di dalam populasi, dan biasanya digunakan untuk menguji tingkat ketaatan terhadap prosedur di dalam sistem pengendalian intern sebagai sarana untuk mengetahui apakah ketentuan-ketentuan yang dibuat manajemen telah ditaati.
Sebagai contoh misalnya auditor ingin menentukan prosentase banyaknya bukti pembayaran yang tidak didukung dengan bukti-bukti tertentu atau tidak diotorisasi oleh pejabat yang berwenang. Untuk menguji pengendalian intern tersebut auditor dapat menggunakan salah satu dari tiga metode sampling, yaitu estimasi atribut (sampling fixed-sample-size), sampling sekuensial (sampling atribut keputusan atau stop or go sampling) dan sampling temuan (discovery sampling). Langkah-langkah dalam sampling atribut: 
1.       Tentukan tujuan pengujian yang hendak dilakukan oleh auditor
2.      Definisikan populasi dan satuan atau unit samplingnya
3.      Definisikan atribut yang menjadi objek pengukuran dan apa yang dimaksudkan dengan penyimpangan
4.      Tentukan tingkat kesalahan tertinggi yang dapat ditolelir
5.      Buat estimasi atau perkiraan mengenai tingkt penyimpangan di dalam populasi, yaitu jumlah penyimpangan di dalam sampel dibagi dengan besarnya sampel
6.      Tentukan tingkat keyakinan, biasanya dalam presentase.
7.      Tentukan besarnya sampel dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

a.      Risiko data yang dapat diterima
b.      Tingkat kesalahan yang dapat ditolelir
c.       Perkiraan mengenai tingkat penyimpanga dalam populasi
d.      Pengaruh besarnya populasi
e.      Metode sampling yang digunakan, apakah sampling fixed-sample-size, sampling sekuensial, atau sampling temuan
8.     Pilih sampel secara acak
9.      Lakukan prosedur audit
10.  Lakukan evaluasi hasil audit sampel pada langkah 9 dengan cara sebagai berikut:
a.      Hitung tingkat penyimpangan
b.      Pertimbangkan risiko sampling
c.       Pertimbangkan aspek kualitatif dari penyimpangan tersebut
d.      Buat kesimpulan secara menyeluruh mengenai pengendalian intern.

B.    Sampling Variabel
Yang dimaksud dengan sampling variabel adalah suatu metode yang digunakan untuk melakukan perkiraan atau estimasi terhadap nilai yang sebenarnya dari saldo suatu akun atau untuk menentukan besarnya nilai suatu kesalahan. Sampling ini terutama digunakan dalam pengujian substantif guna menentukan tingkat dapat diandalkanya suatu jumlah dalam suatu akun, dan dapat dilakukan dengan salah satu dari beberapa metode sebagai beriut: (1) estimasi satuan nilai tengah, (2) estimasi selisih, (3) estimasi perbandingan, dan (4) estimasi regresi.
Keempat metode ini dapat dilakukan dengan stratifikasi atau tanpa stratifikasi. Sampling stratifikasi adalah suatu metode sampling yang membagi-bagi populasi menjadi dua atau lebih sub populasi yang disebut dengan istilah strata, dan sampel kemudian dipilih dari masing-masing strata tersebut, dan masing-masing strata ini selanjutnya diaudit secara terpisah.
Pada umumnya sampling variabel dapat digunakan untuk hal-hal sebagai berikut:
a.      Dalam pengujian substantif, yang dimaksudkan untuk menentukan kewajaran nilai buku suatu akun.
b.      Untuk membuat estimasi mengenai nilai saldo suatu akun atau suatu kelas tertentu dari transaksi-transaksi yang berkaitan seperti taksiran saldo piutang atau taksiran total penjualan untuk suatu periode tertentu.
Secara lebih spesifik Vasarhelyi dan Lin (1990) menyatakan bahwa sampling variable ini dapat diterapkan oleh auditor untuk melakukan pekerjaan audit berkenaan dengan hal-hal sebagai berikut:
1.       Pengujian akun piutang
2.      Pengujian jumlah kuantitas, harga dan nilai persediaan.
3.      Penggantian metode penilaian persediaan dari metode FIFO ke LIFO.
4.      Pengujian jumlah penambahan aktifa tetap
5.      Pengujian terhadap transaksi-transaksi untuk menentukn besarnya nilai transaksi yang tidak didukung oleh bukti yang memadai.

Meskipun banyak hal yang bersifat kuantitatif yang dapat dicakup dengan sampling variabel, metode ini hanya dapat digunakan apabila estimasi penyimpangan baku dari populasi dapat diketahui. Di samping itu, sampling ini juga bergantung pada karakteristik atau sifat-sifat statistik distribusi normal. Selain pengklasifikasian berupa sampling variabel tanpa stratifikasi dan sampling variabel dengan stratifikasi, sampling variabel dan biasanya dikategorikan menjadi empat metode sebagai berikut: (1) estimasi satuan nilai tengah, (2) estimasi selisih, (3) estimasi perbandingan, dan (4) estimasi regresi.
Langkah-langkah dalam sampling variabel:
1.       Tentukan tujuan pengujian yang hendak dilakukan oleh auditor
2.      Definisikan populasi dan satuan unit samplingnya
3.      Definisikan atau tentukan tingkat keyakinan
4.      Estimasikan tingkat kesalahan tertinggi yang dapat ditolelir
5.      Tentukan besarnya risiko alfa dan risiko beta
6.      Pilih dan periksasampel pendhuluan secara acak.
7.      Perhatikan variasi di dalam populasi
8.     Tentukan besarnya sampel dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
a.      Risiko alfa dan risiko beta yang dapat diterima
b.      Kesalahan maksimum yang dapat ditolelir
c.       Perkiraan mengenai simpangan baku populasi
d.      Pengaruh besarnya populasi
9.      Pilih dan periksa sampel tambahan
10.  Lakukan prosedur audit
11.   Buat estimasi mengenai nilai akun atau nilai total populasi
12.  Hitung rengtang keyakinan berdasarkan hasil pemeriksaan sampel
13.  Buat kesimpulan secara menyeluru mengenai hasil pemeriksaan sampel.

C.    Monetary Unit Sampling
Metode ini merupakan gabungan dari sampling atribut dan sampling variabel atau modifikasi dari sampling atribut, yaitu sampling atribut yang digunakan untuk menyatakan suatu kesimpulan tentang nilai yang sebenarnya dari saldo suatu akun atau untuk menentukan besarnya nilai suatu kesalahan.
Langkah-langkah audit dalam sampling monetary unit sampling, sebagai berikut :
1.       Tentukan tujuan pengujian yang hendak dilakukan oleh auditor
2.      Definisikan populasi dan satuan atau unit samplingnya
3.      Estimasikan tingkat kesalahan tertinggi yang dapat ditolelir
4.      Tentukan besarnya sampel dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
a.      Risiko data yang dapat diterima
b.      Tingkat kesalahan yang dapat ditolelir
c.       Perkiraan mengenai tingkat penyimpangan dalam populasi, apakah kesalahannya 100% atau kurang
5.      Pilih sampel secara acak, secara sistematis atau dengan bantuan komputer
6.      Lakukan prosedur audit
7.      Evaluasi hasil audit sampel dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
a.      Aapakah tidak ada kesalahan yang dijumpai
b.      Apakah kesalahan yang dijumpai 100%
c.       Apakah kesalahan yang dijumpai kurang dari 100%
d.      Aspek-aspek kualitatif dari penyimpangan tersebut
e.      Aspek-aspek kuantitatif dari penyimpangan tersebut.
8.     Buat kesimpulan secara menyeluruh mengenai pengendalian intern atau pengujian yang dilakukan.
Contoh :
Seorang bendaharawan yang anda audit memiliki bukti pengeluaran kas (kuitansi = X) sebanyak sepuluh sample (N=10) lembar sebagai berikut:
Total (t)
100, 90, 110, 80, 120, 115, 85, 105, 95, 100  (total pengeluaran 1000)
Sampel yang diambil sebanyak enam (n=6) kuitansi
Pertanyaan :
a.      Tentukan rata-rata nilai sample ?
b.      Tentukan perkiraan (estimasi) total populasi ?
Pemecahan:
Sampel (n=6): 90, 80, 120, 85, 105, 95
Nilai total dari enam sample (t)= 575
a.         Rata-rata nilai sample ( c )= t/n = 575/6 = 95,83
b.        Perkiraan total (estimasi) total populasi (T)
T = 10 x 95,83 = 958,30

Ada beberapa unsur–unsur dapat mempengaruhi hasil sampling, yang mempengaruhi unit sampel, yaitu:
a)     Unit populasi
Unit populasi adalah banyaknya satuan anggota populasi. Misalnya kita melakukan audit atas mutasi pengeluara kas tahun 2001 yang terdiri atas 3.500 kuitansi dengan nilai Rp 800 juta.
b)     Standar deviasi
Standar deviasi adalah angka yang menunjukkan jarak antara nilai rata-rata populasi dengan para anggota secara umum sekaligus menunjukkan tingkat heterogenitas/homogenitas data dalam populasi.
Standar Deviasi = σ = √ Σ (Xi - μ)2 / N
c)      Tingkat keyakinan atau keandalan
Tingkat keyakinan adalah derajat keandalan sampel terhadap populasi yang di wakilinya, di tunjukkan oleh perkiraan persentase banyaknya populasi yang terwakili oleh sampel.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar